Minggu, 04 Maret 2012

Tentang kami

Kalo anda sekalian mampir atau sedang mudik ke kota Blitar, sempatkanlah berwisata kuliner. Karena banyak sekali menu makanan khas yang mungkin sulit anda jumpai di kota lain. Anda ingin tau apa saja yang terkenal dengan cita rasa yang khas dari Blitar

Jumat, 04 Maret 2011

Pecel Pincuk Blitar

Ditulis oleh Blitarian   
Wednesday, 11 February 2009
ImageBeberapa minggu ini, hujan terus mengguyur kota Blitar dan sekitarnya. Menurut beberapa sumber yang terpercaya, gunung Kelud sempat mengeluarkan gas beracun namun syukurlah tidak sampai berakibat fatal memakan korban jiwa. Hujan sempat berhenti 2 hari, namun angin datang dengan cukup kencang menyelubungi wilayah Blitar. Akibatnya...
banyak baliho dari para caleg partai porak poranda. Parahnya baliho komersial di dekat pom bensin Bon Rojo ukuran jumbo jatuh ke aspal. Untung tidak ada korban jiwa.
Sekarang hujan mulai turun lagi. Udara dingin kembali merasuk tubuh masyarakat Blitar. Untuk menghangatkan tubuh, Mbak Krisna sudah siap melayani warga Blitar menyuguhkan sepincuk nasi pecel plus minuman STMJ ( Susu Telur Madu Jahe ).
Mbak Krisna membuka warung pecel pincuk hanya malam hari, di Jl. A. Yani Blitar, timur Rumah Sakit Budi Rahayu. Mbak Krisna yang ramah itu, sudah 3 tahun lebih membuka warungnya. Pada tahun pertama, katanya, dia habis sambel pecel sebanyak 2 kilogram. Sekarang sudah lebih 9 kilogram perharinya. " Pintar saja enggak cukup Mas, untuk membuka warung seperti saya ini, harus telaten dan ulet, awalnya ya susah Mas. Dulu, pertama kali buka, habis sambel 2 kilogram saja sudah syukur Mas, sekarang sudah lumayan, tiap harinya tidak kurang dari 9 kilogram." Begitu cerita Mbak Krisna yang cantik itu.
Memang sudah banyak yang mengulas perihal sambel pecel dari Blitar. Mulai dari pabrik sambel pecel yang ada di jl. Cemara Karangsari Blitar, sampai warung pecel milik Mbok Bari yang konon kabarnya sudah berdiri sejak tahun 1964. dan sekarang sudah membuka cabang di berbagai tempat sampai 6 cabang lebih, termasuk di utara Makam Bung Karno.
Namun Mbak Krisna cukup jeli mengemas sambel pecel untuk masyarakat Blitar. Dia membuka warung pecel dengan PINCUK andalannya. Seusai makan, pincuk cukup di 'untel-untel' di lempar ke tempat sampah. Rasanya pun makin mencolok khas-nya sambel pecel Blitar. Mau mencoba ? Monggo mawon! 

Warung Mak Ti

Ditulis oleh Blitarian   
Sunday, 25 May 2008
Image
Bagi anda yang suka 'jajan' diluar atau tepatnya 'marung' alias makan di warung, mungkin tidak asing lagi dengan nama Warung Mak Ti. Warung Agropolitan tersebut memang lain dari pada yang lain. Terletak di dusun Laos desa Gogodeso kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar. Sebuah tempat yang bisa dibilang cukup pelosok di Blitar. Namun pengunjung warung Mak Ti itu selain banyak juga beragam mulai dari yang bersepeda onthel sampai yang bermobil ( yang sering rombongan dari dinas pemerintah ).

Apa yang membuat Warung Mak Ti demikian terkenal? Meski tempatnya bila anda kesana harus melalui jalan berliku nan sempit bahkan melewati depan kuburan bila mengambil jalur dari barat. Dan bila anda pertama kali kesana juga akan dikejutnya dengan model warungnya yang bila dilihat dari depan (luar) tidak nampak seperti warung makan, cuma name board dengan bertuliskan Warung Mak Ti yang membedakan dengan rumah-rumah penduduk lainnya.

Model penjualan nasinya yang ala prasmanan, membuat pengunjung pemula akan celingukan sampai nantinya ada salah seorang yang memberitahu bahwa anda harus mengambil sendiri menu atau nasinya. Dan yang perlu digaris bawahi pengambilan nasi yang langsung dari bakul (semacam ember) tanpa ada aturan takaran tertulis, jadi siapapun yang mengambil nasi disesuaikan kebutuhan masing-masing, bisa jadi satu piring penuh tanpa harus takut dengan harga, karena baik yang penuh maupun separoh, harganya sama. Mungkin hanya rasa malu bila terlihat pengunjung lainnya hehhehehehe... (kecuali memang tidak punya rasa malu ).

Demikian pula untuk sayur serta lauknya yang rata-rata dari sebangsa ikan kali (sungai) dan ayam, seluruh pengunjung dipersilakan mengambil sendiri-sendiri. Karena setiap porsi apapun itu lauknya, sebanyak apapun itu nasinya, harga tetap Rp. 5000,- kecuali anda tambah camilan lainnya. Kalau dulu warung tersebut menempatkan pengunjungnya di dalam rumah, sekarang dibagian belakang juga dibuatkan tempat atau area untuk menyantap makanan, jadi satu dengan luweng ( tempat memasak ) dengan tarup beratap esbes dan berlantai tanah, meski begitu jangan kawatir, kebersihan tempat kelihatan terus dijaga. Sehingga layaknya 'wong ewoh' (orang punya hajat ) situasi semakin gayeng ketika menyantap makanan yang menunya kita sendiri yang menentukan.

Mak Ti dengan beberapa karyawan warungnya sekitar 8-10 orang nampak terus memasak dengan ukuran yang serba jumbo. Kadang Mak Ti sendiri turun tangan untuk sekedar mengaduk sayur yang sedang dimasak. Untuk bagian goreng-menggoreng lauk dipercayakan pada lelaki paroh baya yang cukup ramah, sehingga dapur Warung mencitrakan seperti sedang selamatan (slametan). Pun soal rasa masakan, tidak ada rasa aneh seperti masakan-masakan berbumbu sintetis karena memang bumbu di warung Mak Ti tanpa penambahan bumbu-bumbu aneh (penyedap dsb).

Bila dilihat dari tempatnya yang sungguh dipelosok dusun namun memang benar adanya bahwa tidak sedikit pejabat sekelas Menteri RI datang untuk mencicipi sekaligus membuktikan bahwa Warung Mak Ti berkelas Nasional. ( semoga dengan dimuat di blitarian.com ini warung Mak Ti naik kelas jadi kelas Internasional hehehhe..).

Sedikit yang mungkin bisa membantu anda ketika nantinya berkunjung ke Kota Blitar dan ingin membuktikan keberadaan Warung Mak Ti berikut sebagai pemuas nafsu makan anda, Warung Makti bila di tempuh dari Makam Bung Karno silahkan menuju ke selatan sampai perempatan depan Apotik Lovi, ambil arah ke kiri ( timur ) jangan berbelok dulu sebelum notok (mentok) atau tepatnya sampai pertigaan depan Radio Mahardika FM. Dari pertigaan tersebut ambil arah ke kanan (selatan) kira-kira 1.5 Km sampai perempatan lampu merah. Dari perempatan tersebut ambil jalan lurus ke selatan bila ragu lihat gapura jalan ke selatan itu bila ada tulisan Yonif 511 berarti benar 100%.

Ketika anda melaju ke arah selatan dari perempatan di atas, anda akan melewati Markas Yonif 511 Blitar, lanjutkan perjalanan anda tadi ke selatan yang berikutnya anda akan menjumpai gapura bertuliskan MASUK DESA JATINOM. Jangan berbelok kemanapun sebelum menemukan bangunan SDN Jatinom I di kiri bahu jalan, karena diselatan banguan SD tersebut ada jalan arah ke kiri (timur) dengan nama Jl. Ky. Buchori, jalan itulah yang harus anda lalui. Ada baiknya anda untuk hati-hati karena Jl. Ky. Buchori terdapat tikungan yang lumayan tajam serta jembatan kecil, ikuti terus arah jalan tersebut sampai menemukan perempatan yang mana di pojok perempatan tersebut sudah dipasang nameboard Warung Mak Ti berikut arah panah yang harus anda ikuti. Sesuai arah panah pada nameboard itu maka anda harus ambil arah ke kanan (selatan),jalan ini agak sempit dengan jarak kurang lebih 1100 Km (sesuai ukuran di nameboard). Sampai akhirnya anda menemukan pertigaan yang juga terdapat nameboard, maka dengan mengambil arah ke kanan (barat) sekitar 50 m anda sampai di Warung Mak Ti.

Selamat menikmati hidangan Mak Ti.

Martumi

Ditulis oleh Blitarian   
Friday, 20 June 2008
ImageBlitar, begitu orang mendengar nama kota Blitar, mungkin bisa dipastikan akan tergiring ke profil Bung Karno atau Gunung Kelud dengan kedahsyatan letusannya, atau bahkan akan teringat peristiwa Blitar Selatan dengan penghancuran sisa-sisa pengikut PKI. Selain itu mungkin akan mengarah pada pecel, makanan khas warga Blitar, meski sekarang sudah banyak makanan alternatif lainnya yang dikonsumsi, namun keberadaan pabrik sambal pecel di Jl. Cemara lingkungan Karangsari Blitar, menambah dominasi pecel sebagai produk unggulan warga Blitar, terlebih pabrik tersebut kabarnya juga telah go internasional.

Ngomong-ngomong soal makanan atau kuliner, bagi masyarakat Blitar ada beberapa tempat buat marung ( makan di warung ) yang sampai saat masih diminati, bahkan bisa dikatakan melegenda seantero Blitar dan sekitarnya. tempat itu diantaranya adalah Warung Bu Martumi, spesialis sayur tewel nan pedes. Beralamat di Desa Dayu Kec. Nglegok, tepatnya utara pasar dayu kurang lebih 150 meter dari pasar. Di depan rumah atau warung Bu Martumi terdapat nameboard yang cukup jelas bertuliskan 'Warung Bu Martumi, sedia Nasi Sayur Tewel, Rebung, Ayam, Dll', memudahkan bagi pe-marung pemula untuk mencari lokasinya.

ImageRumah dengan teras berlantai keramik dominasi warna hijau muda, di tata sedemikian rupa, ada meja kursi serta karpet yang kesemuanya untuk tempat pengunjung warung tersebut.Pada umumnya pengunjung akan langsung menuju dapur untuk memilih serta memesan menu makanan yang tersedia. Jangan heran bila di dapur sebagaimana dapur pada umumnya yang penuh bahan-bahan mentah maupun masakan yang sudah siap saji, namun di dapur Bu Martumi hampir semua ukurannya adalah jumbo. Termasuk wajan atau tungku untuk memasak juga buesar-besar hehehhehe...

Warung Martumi, demikian morang-orang menyebut tempat itu, terkenal karena sayur tewel ( nangka muda ) yang dimasak sangat pedas. Bukan hanya itu saja, disana juga tersedia masakan lainnya seperti iwak kutuk, iwak lele, iwak jendil serta iwak-iwak lainnya ( tapi dudu iwak-iwakan lho ). Dari sekian menu yang ada terutama urusan lauk, disana yang terpopuler adalah iwak ingkung ( 1 ayam utuh ) siap saji. Ditambah dengan oseng-oseng mercon ( lombok ) maka warung itu menjadi syurga bagi mereka yang doyan pedas. Bila masih ragu, begitu anda sampai Blitar, silahkan tanya apakah kenal dengan Warung Martumi, jawabnya nanti 95% adalah "iya". Harganya pun relatif murah, dengan menu 1 ingkung ayam berkisaran 25-30 ribu tergantung jumlah penambahan menu lainnya yang anda ambil. Sangat cocok bagi anda yang suka makan ramai-ramai bersama keluarga atau kerabat kerja serta teman karib. Tidak dianjurkan bagi anda yang anti pedas, kecuali memang kesana hanya untuk melihat-lihat atau meminta air putih ( peace! ).

Sego Pecel "mbok Bari"

Ditulis oleh kimung   
Sunday, 05 October 2008

Image Yang paling mudah bagi anda yang kebetulan berkunjung ke Kota Blitar, bila mana ingin merasakan Nasi Pecel khas Blitar adalah ke warung Mbok Bari. Lazimnya para pendatang berkunjung ke Blitar dengan tujuan wisata Makam Bung Karno sekaligus Perpustakaan Bung Karno maka letak warung Mbok Bari yang memiliki beberapa cabang di Blitar, salah satunya berada sangat dekat dengan Makam Bung Karno tersebut yang berada di Kelurahan Sentul Blitar. Dimana sih?

Dari Makam Bung Karno anda bisa cukup berjalan kaki ke arah utara, beberapa puluh meter kemudian akan terlihat Warung Mbok Bari dengan spanduk besar di barat jalan. Tapi maaf bila pagi hari anda harus antri, mengingat penduduk lokal juga enggak bisa lepas dengan yang namanya Sarapan Sego Pecel.
Cabang yang lain ada di Jl. RA Kartini (depan pasar pon), sedangkan warung Nasi Pecel "mbok Bari 3" terletak di Jl. A. Yani tepatnya di sebelah barat Hotel Blitar Indah. 

Warung Pojok Kademangan

Ditulis oleh Blitarian   
Saturday, 28 February 2009
ImageNama Warung Pojok mungkin sudah lazim digunakan sebagai warung-warung yang bertempat di pojok jalan perempatan atau pertigaan. Begitu pula Warung Pojok milik ibu Patemi yang berada di tikungan timur jembatan Kademangan ini. Menu andalan warung pojok ini masih pada khas makanan masyarakat Blitar yakni Nasi Pecel. Seiring dengan beragamnya pengunjung maka warung pojok ini sekarang menyediakan nasi Soto, Rawon dan sebagainya. Apa yang menarik dari warung pojok tersebut...?
ImagePertama, lokasi warung pojok ini sangat mudah ditemukan. Berada persis di timur jembatan kademangan tepat di utara tikungan menuju pasar kademangan serta Pantai Tambak Blitar Selatan.
Kedua, tentu saja menu yang disajikan sangat khas mblitarnya. Kalau pagi, nasi pecelnya sangat dinantikan para pemburu sarapan. Jangan heran bila pagi banyak yang antri di warung itu mulai dari para PNS, pekerja umum, sampai para biker yang umumnya rombongan.
Ketiga, di warung pojok ini tersedia juga berbagai jajanan produk masyarakat Kademangan sendiri. Mulai onde-onde, geti, rempeyek, kerupuk gadung, rengginan, sampai opak sermiyer.
Keempat, murah! Sepiring nasi pecel hanya Rp. 2.500,- kecuali bila anda nambah lauk dengan sate usus atau bergedel bikinan mbak-mbak yang bekerja disitu.
Kelima, tempatnya cukup bersih meski berada diarea yang terbilang cukup pojok. Sedang area parkir yang cukup luas memungkinkan untuk dikunjungi secara berombongan.
Bagi anda yang berkunjung ke Blitar, dengan tujuan wisata Pantai Tambakrejo, Goa Jambangan, dan Goa Mbulthuk jangan kawatir Warung Pojok milik Bu Patemi buka sampai petang. 

Peyek Uceng

Ditulis oleh kimung   
Sunday, 05 October 2008
Image Warung ini biasa disebut warung Sukaria mungkin karena disesuaikan dengan nama pemiliknya yaitu Haji Sukari atau dikenal juga dengan nama Warung Nasi Uceng ‘Djoyo Mulyo’ dan letaknya dipelosok di desa Babadan, Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar. Dahulu lokasi warung ini masuk ke pelosok desa kira2 tepatnya ke arah barat dari lokasi yang sekarang yang mana sudah berada di pinggir jalan dari wlingi ke arah batu malang
Awalnya Haji Sukari hanya berjualan Nasi Pecel dengan lauk peyek Uceng yang dirintisnya sejak tahun 1977.  Seiring dengan permintaan pelanggan maka dibuatlah menu baru Uceng goreng dengan Lalapan dan sambal hingga menjadi menu andalan warung ini sekarang. Tersedia juga ikan Uceng yang di masak sayur seperti umumnya masakan khas orang desa, ada pula ikan wader goreng, udang kali goreng dan aneka ikan air tawar yang didapat dari sungai-sungai di sekitar daerah Wlingi. dan yang khas lagi adalah terancam, yaitu mentimun yang dicacah, dicampur kemangi dan parutan kelapa, biasanya menjadi campuran nasi pecel.
ImageUceng adalah ikan air tawar, biasanya hidup di sungai yang airnya jernih dan mengalir deras. Ikan ini bentuknya bentuknya bulat dan memanjang kira2 sebesar jari kelingking, tidak bersisik dan terdapat garis-garis vertikal hitam di badannya. Cara mendapatkannya langsung dijaring di sungai, atau menggunakan perangkap semacam "wuwu" yang ukurannya kecil. Wuwu kecil itu di bagian tutup depan dikasih umpan nasi yang dilumatkan dan dicampur bawang putih. Sore dipasang dengan cara dibenamkan ke dalam air sungai, pagi harinya diambil, uceng sudah masuk perangkap. Pernah juga ada upaya budidaya Uceng, agar tidak merusak ekosistem sungai. Namun upaya itu gagal sehingga mengandalkan bahan baku yang di dapat langsung di alam seperti di kali Lekso yang merupakan jalur aliran lahar Gunung Kelud, bisa anda bayangkan sungai ini penuh dengan batuan material gunung kelud dan airnya sangat bening dan deras ditambah hawa pengunungan yang sejuk menjadikan airnya dingin dan segar.

Setiap hari, Haji Sukari menghabiskan 40 hinga 50 kilogram Uceng. Itu belum termasuk wader dan udang sungai, serta ikan air tawarnya. Setidaknya ada 20 orang pemasok Uceng dari Desa Babadan sendiri, serta desa di sekitar wilayah Kecamatan Wlingi.
Bagi anda yang ingin membawa pulang sebagai oleh-oleh, Warung Sukari sudah menyediakan Uceng goreng dalam kemasan plastik dan setiap bungkusnya berisi seperempat kilogram dan dijual dengan harga Rp 15.000,-

Rute
Dari arah kota Blitar setelah melewati masjid Agung Wlingi ketemu SPBU kemudian belok kiri atau ke arah utara (mengikuti jalur BUS) setelah melewati depan RS Wlingi maka jalur Bus ini akan berbelok ke kanan atau arah timur kemudian bertemu pertigaan Gurid dimana ada sebuah prasasti dipinggir jalan namanya Prasasti Munggut, dari sini belok ke kiri atau ke arah utara jurusan Obyek Wisata Rambut Monte, Nah kira-kira 500m-1km di kiri jalan tetulis nama Warung Jaya Mulya.
Dari arah Kota Wlingi, setelah melewati Pasar Wlingi ada pertigaan jangan ambil yang belok ke kanan karena itu ke arah Kawedanan melalui jembatan kali lekso, ambil jalur lurus dan kemudian belok ke kiri hingga sampai di pertigaan tempat prasasti Munggut berada selanjutnya tinggal belok kanan

Karena saking khasnya sekarang ini telah bermunculan penjual Nasi Uceng salah satu diantaranya terletak di depan SPBU Garum sebelah utara jalan.